Mimpim Ibuku..

Rabu, 06 Januari 2016
Pasar Minggu Rabu 06 Januari 2016
Semalam mimpi orang-orang yang sudah mendahului saya yaitu: ibunda dan MbaH Mulyo. Adapun mimpinya sebagai berikut:

Tiba-tiba saja saya bermimpi melihat Mbah Mulyo (tetangga di Jawa yang ikut ibu ke Jakarta dan membantu kami disini). Mah Mulyo saat itu terseyum-seyum pada saya trus topik mimpi berubah yaitu mengenai ibuku. Saya kaget, ibuku kok hidup lagi.. bukannya sudah meninggal ibuku? Lalu aku hampiri ibuku dan ibuku berkata “ itu plastiknya ada.disitu..” yang aku tangkap dari mimpi itu adalah plastik es lilin yang kecil-kecil. Akupun tidak tau makna dari mimpi ini. Ini merupkan mimpi ibuku yang kesekian kalinya. Hal ini aku tulis karena dalam mimpi tersebut ada kesan, selain itu yang ku mimpiin ada dua orang yang berpulang sekaligus dalam mimpiku.

DREAM


Pasar Minggu 06 Januari 2016

Semalam mimpi orang-orang yang sudah mendahului saya yaitu: ibunda dan MbaH Mulyo. Adapun mimpinya sebagai berikut:

Tiba-tiba saja saya bermimpi melihat Mbah Mulyo (tetangga di Jawa yang ikut ibu ke Jakarta dan membantu kami disini). Mah Mulyo saat itu terseyum-seyum pada saya trus topik mimpi berubah yaitu mengenai ibuku. Saya kaget, ibuku kok hidup lagi.. bukannya sudah meninggal ibuku? Lalu aku hampiri ibuku dan ibuku berkata “ itu plastiknya ada disitu..” yang aku tangkap dari mimpi itu adalah plastik es lilin yang kecil-kecil. Akupun tidak tau makna dari mimpi ini. Ini merupakan mimpi ibuku yang kesekian kalinya. Hal ini aku tulis karena dalam mimpi tersebut ada kesan, selain itu yang ku mimpiin ada dua orang yang berpulang sekaligus dalam mimpiku.

DREAM


Pasar Minggu 06 Januari 2016
Semalam mimpi orang-orang yang sudah mendahului saya yaitu: ibunda dan MbaH Mulyo. Adapun mimpinya sebagai berikut:
Tiba-tiba saja saya bermimpi melihat Mbah Mulyo (tetangga di Jawa yang ikut ibu ke Jakarta dan membantu kami disini). Mah Mulyo saat itu tersenyum-senyum pada saya trus topik mimpi berubah yaitu mengenai ibuku. Saya kaget, ibuku kok hidup lagi.. bukannya sudah meninggal ibuku? Lalu aku hampiri ibuku dan ibuku berkata “ itu plastiknya ada disitu..” yang aku tangkap dari mimpi itu adalah plastik es lilin yang kecil-kecil. Akupun tidak tau makna dari mimpi ini. Ini merupakan mimpi ibuku yang kesekian kalinya. Hal ini aku tulis karena dalam mimpi tersebut ada kesan, selain itu yang ku mimpiin ada dua orang yang berpulang sekaligus dalam mimpiku.

KOTA TUA JAKARTA

Sabtu, 02 Januari 2016
Sejarah Kota Tua Jakarta dan Perkembangannya

Mengunjungi ibu kota Jakarta tidak akan lengkap tanpa kita mengenal satu ikon perkembangan peradaban yang berjaya pada masa kolonial ini, Kota Tua Jakarta. Salah satu ikon ibu kota negara Republik Indonesia selain Taman Mini Indonesia Indah dan Monas. Kota Tua Jakarta adalah sebutan bagi sebuah bangunan gedung cagar budaya yang dipertahankan hingga kini untuk mengenang awal terbentuknya Jakarta. Pada masa lalu gedung Kota Tua adalah simbol kekuasaan dan kejayaan yang diperebutkan oleh banyak pemimpin besar. Konon siapapun yang berhasil menguasai wilayah ini maka dia adalah pemimpin sejati. Jadi, wajar saja bila ikon gedung tua ini begitu dijaga kelestariannya hingga sekarang.




Sejarah Kota Tua Jakarta

Kota Tua Jakarta terletak diantara dua kotamadya yaitu Jakarta Barat dan Jakarta Utara, tepatnya di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari. Posisinya yang strategis membuatnya mudah disinggahi kala itu. Bahkan berbagai kerajaan turut memperebutkan kekuasaan di kawasan ini. Berikut ini adalah ulasan mengenai sejarah Kota Tua Jakarta dari masa ke masa. Kota Tua Jakarta adalah nama dari sebuah gedung yang tepatnya berada di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, Kotamadya Jakarta Barat. Letak gedung ini berbatasan dengan beberapa tempat strategis diantaranya :
·         Sebelah utara, berbatasan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Laut Jawa
·         Sebelah Timur, berbatasan dengan Kali Ciliwung
·         Sebelah Barat, berbatasan dengan Kali Krukut
·         Sebelah Selatan, berbatasan dengan Jalan Jembatan Batu
Lokasi Kota Tua yang strategis tersebut akhirnya menimbulkan perebutan kekuasaan wilayah. Mulai dari Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Tarumanegara, Kesultanan Banten, VOC, hingga Jepang dulu turut memperebutkannya. Kota Tua Jakarta dikenal pula dengan sebutan lamanya yaitu Oud Batavia atau Batavia lama. Seperti yang kita ketahui bahwa Batavia dulu juga merupakan nama untuk kota Jakarta sekarang. Wilayah Kota Tua yang luasnya sekitar 1,3 km2 ini dulunya sempat disebut sebagai Permata Asia serta Ratu Dari Timur’’. Wilayah ini merupakan pusat perdagangan yang sangat strategis di Asia, apalagi begitu banyak hasil yang melimpah di tempat ini. Wajar saja, banyak pemimpin yang tidak rela melepaskan kekuasaannya di wilayah ini.


Perkembangan Kota Tua Jakarta
Sejarah Kota Tua berawal pada abad ke 15 tepatnya tahun 1526 saat Fatahillah melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Hindu Pajajaran. Penyerangan tersebut terjadi tepat di Pelabuhan Sunda Kelapa atas perintah dari Kesultanan Demak. Wilayah ini  memiliki luas 15 ha, dengan tata ruang mengadopsi kebudayaan Jawa. Selanjutnya, wilayah ini diberi nama Jayakarta, bahkan diklaim menjadi cikal bakal kota terbesar di Indonesia ini.
1.  Tahun 1635 kota Batavia mengalami perluasan hingga ke bagian barat dari sungai Ciliwung. Dengan arsitektur bergaya Belanda dilengkapi dengan Benteng Kasteel khas Batavia, kanal dan dinding kota, Batavia semakin memukau saat itu. (Baca Juga : Sejarah Runtuhnya Bani Ummayah )
2.  Abad ke 16 tepat pada tahun 1619, menjadi target VOC dibawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Beberapa waktu kemudian tepatnya pada tahun 1620 Jayakarta resmi berganti nama menjadi Batavia. Nama tersebut diberikan guna menghormati leluhur bangsa Belanda yang bernama Batavieren. Kota Batavia berpusat di sebelah timur Sungai Cilwung yang saat ini dikenal dengan Lapangan Fatahillah. Batavia memiliki penduduk lokalnya yang sampai sekarang masih eksis yaitu suku Betawi, yang dulunya disebuut sebagai Batavianen. Betawi berasal dari berbagai etnis khususnya etnis kreol yang menghuni pemukiman Batavia kala itu. (Baca Juga : Sejarah Nazi )
3.  Pada awalnya maksud kedatangan para saudagar ini adalah menukar rempah-rempah, namun ternyata berubah menjadi pengalihan kekuasaan saat hubungan kurang baik terjadi antara Belanda dengan Jayawikarta. (Baca Juga : Sejarah Kabah )
4.  Kemenangan Demak yang kemudian mengubah nama menjadi Jayakarta kemudian memasuki ranah baru yaitu menjadi bagian dari Kesultanan Banten. Dibawah kekuasaan Kasultanan Banten Jayakarta menjadi kota tujuan para saudagar dari Belanda khususnya yang berada dibawah pimpinan Cournelis de Houtman. (Baca Juga : Sejarah Konstantinopel )
5.  Pada awalnya lokasi ini dikenal sebagai dermaga Sunda dengan letaknya yang sangat strategis serta makmur. Apalagi di dermaga ini merupakan tempat yang sangat tepat untuk penjualan rempah-rempah khas Sunda yang memang masyarakatnya bekerja sebagai petani rempah. Pada abad ke 14 pelabuhan ini dianggap sebagai pelabuhan penting bagi beberapa kerajaan di nusantara. Bahkan terdengar bahwa bangsa Portugis ingin menguasai wilayah ini, hingga hal tersebut didengar oleh Kerajaan Demak yang mengirimkan Fatahillah mencegah kekuasaan Portugis saat itu. (Baca Juga :  Jenis Jenis Manusia Purba di Indonesia )
6.  Pada Tahun 1650, kota Batavia dijadikan sebagai pusat pemerintahan oleh VOC dan mengalami lagi perluasan menuju selatan setelah munculnya wabah tropis akibat sanitasi yang buruk.
7.  Pada tahun 1870 perluasan tersebut memaksa sebagian warganya keluar dari kota kecil tersebut dan berpindah ke kawasan Weltevreden yang saat ini dikenal dengan lapangan Merdeka. Pada tahun ini pula Batavia menjadi kawasan pusat pemerintahan Hindia Timur Belanda.
8.  Tahun 1942 dibawah kepemimpinan Jepang, Batavia berganti nama menjadi Jakarta hingga saat ini dan dijadikan sebagai ibu kota Indonesia. (Baca Juga : Masa Penjajahan Belanda di Indonesia )
9.  Kota Tua Jakarta resmi dijadikan sebagai situs warisan pada dekrit yang dikeluarkan Gubernur Jakarta pada masa itu Ali Sadikin. Dengan adanya keputusan tersebut maka bangunan serta arsitektur dari Kota Tua Jakarta wajib dipertahankan.


Kota Tua Jakarta Saat Ini
Saat ini Kota Tua Jakarta lebih dikenal sebagai bangunan kuno sebagai ikon ibu kota negara Indonesia. Berbagai kegiatan dilakukan di kawasan ini saat HUT kota Jakarta atau event bersejarah lainnya untuk mengenang perjuangan pada masa lalu. Biasanya yang seringkali ditampilkan adalah beberapa event pameran, pertunjukan seni yang memang didukung oleh arsitektur bangunan yang memiliki nilai artistik tersendiri ini. Berbagai pertunjukan yang sering diadakan di lokasi ini antara lain adalah sebagai berikut.
1.  Pameran Sejarah Jakarta
2.  Pameran Kebudayaan Betawi
3.  Pameran Lukisan dari seniman lokal Betawi
4.  Pagelaran Seni Lenong Khas Betawi
5.  Penghelatan Akbar untuk Mengenang Sejarah Kota Tua
Event-event tersebut biasanya digelar setiap dua tahun sekali dengan menampilkan seniman ibu kota. Bahkan tidak menutup kemungkinan beberapa duta besar juga turut hadir sebagai bentuk toleransi budaya. Saat ini Kota Tua Jakarta menjadi bangunan cagar budaya yang berada dibawah tanggung jawab Pemkot Jakarta, sehingga segala hal yang berkaitan dengan perawatan, renovasi atau pemugaran juga berada dibawah naungan Pemkot Jakarta.
Jakarta memang layak memiliki bangunan yang menjadi ikon kota karena kebesarannya menjadi ibu kota sebuah negara berkembang. Di Indonesia, ikon serupa juga dimiliki oleh beberapa kota besar lainnya seperti Jogja dengan Keratonnya, Semarang dengan Lawang Sewunya, Surabaya dengan Tugu Pahlawannya, dan masih banyak lagi yang lain. Oleh karena itu, berbangga menjadi salah satu bagian dari warisan budaya masa lampau adalah sikap sebagai warga negara yang bijak. Dengan menjaga dan melestarikan budaya yang ada berarti juga turut membangun peradaban yang memiliki nilai moral tinggi. Hal ini yang harus menjadi perhatian generasi muda saat ini dan harus dimulai sejak dini. Demikian artikel sejarah mengenai kota tua Jakarta, semoga bermanfaat dan dapat menambahkan wawasan bagi anda!


Pada kesempatan kali ini diawal Tahun Baru sabtu 2 Januari 2016 kami sekeluarga berkunjung ke Kota Tua untuk melihat langsung kondisi disana. Ternyata memang benar apa yang dituliskan di atas. Bangga juga Jakarta masih memiliki cagar budaya lama yang masih terawat dan juga sebagai pusat wisata serta pendidikan. Untuk mencapai lokasi dari Pasar Minggu tidaklah sulit. Cukup naik KRL Commuter Line turun di Stasiun Kota (Bios) dan dilanjutkan dengan berjalan kaki, sekitar 500 meter jarak dari Stasiun Kota ke Kota Tua.
        Foto: Document Pribadi

WISATA DI BANTEN

Jumat, 25 Desember 2015
Wisata di Banten
Sekitar  empat abad lalu, sebuah kerajaan islam berdiri tidak jauh dari Sunda Kelapa, atau Jakarta saat ini. Sebuah kerajaan yang selama hampir tiga abad mampu bertahan dan meraih kejayaan, hingga para penjajah Eropa datang dan menanamkan pengaruhnya di tanah Nusantara. Kerajaan tersebut dikenal dengan Kerajaan Banten, sebuah pemerintahan kesultanan yang masih memiliki hubungan dengan Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Kerajaan ini pun akhirnya runtuh akibat perang saudara dan pergolakan politik pada tahun 1813 masehi.

Dua abad berlalu setelah runtuhnya kerajaan Banten, ternyata banyak cerita dan bukti sejarah yang tersisa. Sobat Tiket, apa saja sisa sejarah kerajaan Banten lama yang bisa kita jumpai? Berikut ini adalah beberapa sisa sejarah kerajaan Banten lama.
1.      Benteng Speelwijk
Benteng Speelwijk adalah satu-satunya benteng Belanda yang berdiri di tanah Banten. Dibangun pada tahun 1682, pada masa pemerintahan Sultan Abu Nasr Abdul Kahar, benteng ini bisa dibilang merupakan salah satu saksi bisu bagaimana tentara Belanda berusaha menguasai Kota Banten yang dahulu merupakan kota perdagangan yang ramai. Untuk sementara ini saya belum pernah berkunjung ke Benteng ini. semoga dilain waktu bisa berkunjung.
Benteng Speelwijk via www.backpackerkoprol.com (Belum pernah berkunjung ke sini)
2.     Pemandian Surosowan
Terletak masih satu komplek dengan Keraton Surosowan, situs pemandian ini juga bisa dibilang merupakan bukti kejayaan kerajaan Banten pada abad ke-15. Di sini, Sobat Tiket masih bisa melihat sisa-sisa megahnya tempat tinggal keluarga kerajaan Banten yang saat itu dipimpin oleh Sultan Maulana Hasanuddin. Bangunan Keraton Surosowan dan tempat pemandian ini juga menurut cerita, dibangun dengan bantuan Hendrik Licasz Cardeel, seorang ahli tata bangunan dari Belanda.




Museum Situs kepurbakalaan

 
Sisa-Sisa Kejayaan Banten di Reruntuhan Keraton Surosowan

Sebelah utara 14 km dari Kota Serang, Banten, tepatnya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, kawasan Banten Lama, terdapat reruntuhan bangunan yang tenggelam bersama kejayaan kerajaan Banten. Bangunan ini dahulu menjadi pusat dari kerajaan dan tempat tinggal sultan bersama keluarga dan pengikutnya. Kini, reruntuhan tersebut hanya meninggalkan cerita dibalik masa emasnya yang telah hilang. Keraton Surosowan menjadi saksi bisu saat Banten berjaya dengan pelabuhannya yang ramai dengan aktivitas perdagangan.

kami pernah berkunung kemari dua kali, pertama kali kami ke Keraton Surosowan pada hari Kamis tanggal 08 Desember 2005 (Klik disini info lebih detail), saat itu kami kesini berdua dengan Ambar kala itu kami belum menikah. sedangkan kunjungan kami yang kedua adalah tanggal 25 Desember 2015. kali yang kedau kami berlima ke lokasi ini yaitu Saya, Ambar (istri), Fikri, Faris (anak) dan Naning (adek istri) 


Kunjungan Kedua Ke Keraton Surosowan (25 Desember 2015)

Keraton Surosowan diperkirakan dibangun antara tahun 1526-1570 saat Pemerintahan Sultan Banten yang pertama yaitu Sultan Maulana Hasanudin. Sejarah pembangunan keraton ini tidak lepas dari pemberian wilayah yang diserahkan oleh Sunan Gunung Jati kepada anaknya Sultan Maulana Hasanudin.

Layaknya keraton di Jawa, Keraton Surosowan juga berfungsi sebagai tempat tinggal sultan beserta keluarga dan pengikutnya. fungsi lainnya, keraton juga menjadi pusat kerajaan dalam menjalankan pemerintahan Kerjaan Banten. Hal ini terlihat dalam tata pola yang mengikuti kerajaan Islam lainnya di Jawa yang memiliki Alun-Alun di sebelah utara, Masjid Agung di bagian barat dan pasar serta pelabuhan di sisi timur dan utara keraton.


Kunjungan Pertama Ke Keraton Surosowan

Bentuk keraton mengalami perubahan saat pemerintahan di pimpin oleh Sultan Haji pada tahun 1672-1687. Pembangunan ini dilakukan karena keraton mengalami kehancuran yang dilakukan oleh Belanda pada tahun 1680. Dibantu oleh ahli bangunan asal Belanda bernama Hendrik Lucasz, Keraton Surosowan dibangun dengan penambahan dinding di bagian sisinya.

Dinding berupa benteng setinggi 2 meter dengan lebar 5 meter ini dibangun untuk meminimalisir serangan Belanda yang pernah menyerang keraton. Atas jasanya, ahli bangunan berkewarganegaraan Belanda yang masuk islam ini diberi gelar oleh Sultan dengan nama Pangeran Wiraguna.

Ketika Belanda menyerang kembali, Keraton menjadi sasaran utama dengan penghancuran kota dan membuat Sultan dan penghuninya meninggalkan keraton. Kejadian ini terjadi pada tahun 1813 saat Gubernur Jendral Belanda dipimpin oleh Herman Daendels.


Kunjungan Pertama Ke Keraton Surosowan
Sisa-sisa inilah yang kini terlihat dalam reruntuhan. Bangunan keraton yang menggunakan bahan bata campuran pasir dan kapur sebagai bahan dasarnya menjadi saksi bagaimana kehebatan Kerajaan Banten pada abad 17.

Walaupun hanya berupa reruntuhan, keraton yang disebut juga Benteng Surosowan ini masih memiliki beberapa sisa ruang yang dapat dilihat. Seperti Gerbang di bagian utara, serta kolam dan tempat beristirahat yang bernama Bale Kambang Rara danok. Bentuknya segi empat dengan panjang 30 meter dan lebar 13 meter membuat kolam ini menjadi tempat yang pas untuk beristirahat bagi putri-putri sultan.


Kunjungan Pertama Ke Keraton Surosowan

Luas benteng bersejarah yang mencapai 4 hektar ini membuat pemerintah Provinsi Banten menetapkan reruntuhan ini sebagai cagar budaya yang dilindungi dan kaya akan sejarah Banten. Karenanya banyak pengunjung yang sering datang hanya untuk memlihat dan sedikit membayangkan bagaimana kejayaan Kerajaan Banten lewat reruntuhan Keraton Surosowan. [Riky/IndonesiaKaya]


3.     Masjid Agung Banten
Berbeda dengan situs peninggalan sejarah lainnya, Masjid Agung Banten merupakan salah satu bangunan bersejarah yang masih ramai digunakan hingga sekarang. Bukan hanya karena gedung tersebut masih berdiri kokoh dan masih digunakan untuk beribadah, tapi juga di Masjid ini terdapat makam sultan dan keluarga kerajaan, yang biasanya ramai dikunjungi oleh para peziarah. Sayangnya kondisi di sekitar Masjid tidak begitu terawat, namun hal itu tidak mengurangi keindahan bangunan Masjid ini.






Kunjungan Kedua Ke masjid Agung Banten (25 Desember 2015) 


4. Keraton Kaibon, Persembahan Sultan untuk Sang Bunda

Kawasan Banten Lama di Kabupaten Serang banyak meninggalkan bangunan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satu bangunan yang masih tersisa adalah Keraton Kaibon yang terletak di Kampung Kroya, Kelurahan Kasunyatan, Kecamatan Kasemen. Keraton kaibon menjadi salah satu bangunan cagar budaya Provinsi Banten yang menyimpan cerita kejayaan Kerajaan Banten Lama.

Dibangun pada tahun 1815, keraton ini menjadi keraton kedua di Banten setelah Keraton Surosowan. Berbeda dengan Keraton Surosowan, sebagai pusat pemerintahan, Keraton Kaibon dibangun sebagai tempat tinggal Ratu Aisyah. Hal ini dikarenakan Sultan Syafiudin sebagai Sultan Banten ke 21 saat itu usianya masih 5 tahun. Nama Kaibon sendiri dipastikan diambil dari kata keibuan yang memiliki arti bersifat seperti ibu yang lemah lembut dan penuh kasih sayang.


Kunjungan Pertama Ke Keraton kaibon  (25 Desember 2015)
Keraton Kaibon dibangun menghadap barat dengan kanal dibagian depannya. Kanal ini berfungsi sebagai media transportasi untuk menuju ke Keraton Surosowan yang letaknya berada di bagian utara.

Dibagian depan keraton dibatasi dengan gerbang yang memiliki 5 pintu. Arti angka lima ini mengikuti jumlah shalat dalam satu hari yang dilakukan umat muslim. Gerbang yang bergaya Jawa dan Bali ini memiliki ketinggian 2 meter dengan bentuk Candi Bentar sebagai motifnya. Gerbang ini disebut juga dengan sebutan gerbang bersayap. Pada satu gerbang terdapat pintu paduraksa yang menghubungkan bagian depan dengan ruang utama keraton.


Kunjungan Pertama Ke Keraton kaibon  (25 Desember 2015) 

Ruang Utama keraton ini tidak lain adalah kamar tidur Ratu Asiyah itu sendiri. Dibangun dengan menjorok ke tanah, kamar tidur Sang Ratu dilengkapi dengan teknologi pendingin ruangan. Ini bisa terlihat dari lubang yang terdapat dalam ruangan. Lubang tersebut dahulu dapat di isi air untuk memberikan efek sejuk pada isi dalam ruangan.

Keraton yang berdiri di tanah seluas mencapai 4 hektar ini, dibangun menggunakan batu bata yang terbuat dari pasir dan kapur. Walaupun telah hancur, beberapa reruntuhan di keraton ini masih terlihat pondasi dan pilar-pilar yang utuh.

Salah satu yang terlihat jelas adalah bangunan yang menyerupai masjid. Bangunan masjid ini berada di sisi kanan gerbang. Selain pilar yang masih utuh, di dalam bangunan tersebut juga terdapat mimbar yang berfungsi sebagai tempat berdirinya khotib.

Tahun 1832 Keraton Kaibon dihancurkan oleh pihak Belanda yang dipimpin oleh Gubernur VOC saat itu, Jendral Daen Dels. Penyerangan dilakukan karena Sultan Syaifudin menolak dengan keras permintaan sang jendral untuk meneruskan pembangunan Jalan Raya Anyer-Panarukan. Bahkan utusan jendral yang bernama Du Puy dibunuh sultan hingga kepalanya dipenggal kemudian dikembalikan kepada jendral Daen Dels. Marah besar, jendral VOC tersebut menghancurkan keraton Kaibon hingga meninggalkan puing-puing yang tersisa saat ini.
Kunjungan Pertama Ke Keraton kaibon  (25 Desember 2015)

Kini, puing reruntuhan Keraton Kaibon meninggalkan cerita tentang kejayaan Banten Lama. Walaupun hanya berupa reruntuhan dan pondasi-pondasi bangunan, tidak membuat pengunjung berhenti mengunjungi cagar budaya di Provinsi Banten ini. Selain ingin melihat kejayaan Banten tempo dulu, keraton ini juga sering dijadikan pengunjung dan pasangan muda untuk mengabadikan diri dengan latar belakang keraton yang klasik serta artistik. [Riky/IndonesiaKaya]