SAAT PANGLIMA BERPULANG.....

Kamis, 22 April 2021

 

SAAT PANGLIMA BERPULANG.....

29 Januari 1950

Titip anak anak...Tolong aku dibimbing tahlil....

Ucapan terakhir Panglima Besar Soedirman....

Berjalan tertatih-tatih, Letnan Jenderal Soedirman memasuki rumah dinasnya di jalan Bintaran Wetan, Yogyakarta. Di depan pintu, sang istri, Siti Alfiah, menyambutnya. Soedirman pulang setelah dua pekan meninggalkan istri dan enam anaknya untuk memimpin operasi penumpasan pemberontakan Partai Komunis Indonesia di Madiun, Jawa Timur. Malam itu, akhir September 1948, di kediamannya yang kini menjadi Museum Sasmitaloka, Soedirman terlihat ringkih. Kepada istrinya, dia mengeluh tak bisa tidur selama di Madiun.

Soedirman rupanya begitu terpukul menyaksikan pertumpahan darah yang terjadi antara rakyat Indonesia itu. Peristiwa Madiun membuat batin Panglima Besar Angkatan Perang Republik Indonesia itu nelangsa.

Selain kelelahan berat, Soedirman tertekan batinnya karena peristiwa itu. Malam itu, kendati kondisi kesehatannya turun, Soedirman tetap mandi dengan air dingin. Saran sang istri agar ia mandi air hangat tak diindahkan. Dan inilah awal petaka bagi Soedirman. Esoknya, Soedirman terkapar di tempat tidur.

Ketika ulang tahun tentara tiba, 5 Oktober 1948, Soedirman yang masih sakit, mengunjungi Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. Di sana ia melakukan tabur bunga ke pusara anggota tentara korban pemberontakan PKI Madiun. Sepulang dari tabur bunga, kesehatannya memburuk. Kendati ia sakit, kegemarannya merokok tetap tak bisa dihilangkan. Sesekali, sembari terbaring, dia menghisap rokok kretek. Istrinya tak berani melarang. Karena tahu Soedirman memang perokok berat.

Karena Soedirman tak kunjung pulih, maka diutuslah sejumlah dokter tentara memeriksa kesehatannya. Tim dokter muda itu mendiagnosis ia menderita tuberkolosis, infeksi paru-paru. Keluarga Soedirman meminta dua dokter senior, Asikin Wijayakusuma dan Sim Ki Ay, melakukan pemeriksaan dua dokter tersebut tak jauh beda dengan pendahulunya. Atas saran Asikin, Soedirman dibawa ke Rumah Sakit Panti Rapih, Yogyakarta.

Soegiri, bekas ajudan Soedirman, menulis bagaimana saat sang Jenderal dirawat di rumah sakit Katolik itu. Soedirman dirawat di kamar 8 Bangsal Maria, yang terdapat di bagian depan. Soedirman terkena pulmonary tuberculosis. Penyakit itu diketahui Soegiri dari dokter yang merawat Soedirman. Menurut Soegiri, obat yang dibutuhkan Soedirman hanya ada di Jakarta. Kalaupun sampai di Yogyakarta, obat itu harus melalui jalur penyelundupan. Karena Jakarta, saat itu dikuasai oleh tentara sekutu.

Karena Soedirman butuh pengamanan cepat, tim dokter memutuskan melakukan operasi untuk menyelamatkannya dengan cara membuat satu paru-parunya tak berfungsi. Komplikasinya, kata Soegiri, memang sudah sedemikian rupa, sehingga membuat dokter menempuh cara tersebut. Pasca-operasi, menurut Soegiri, tim dokter berbohong kepada Soedirman. Mereka mengatakan operasi itu cuma mengangkat satu organ kecil di paru-paru yang menghambat saluran pernafasan. Adapun ibunya dibertahu dokterperihal operasi itu. Dan sejak itu Soedirman bernafas dengan separuh paru-parunya.

Setelah operasi, Soedirman diminta beristirahat lebih lama. Ia juga dilarang keras merokok. Menurut Soegiri, ketika hari jadi ke-25 rumah sakit itu, Soedirman khusus menulis sajak sebagai kado ulang tahun. Sajak lima alinea itu berjudul “ 25 Tahun Rumah Nan Bahagia”.

Isinya, ucapan terima kasih Soedirman karena mendapat perawatan yang baik selama disana. Tulisan asli sajak itu kini diletakkan di bawah monumen Jenderal Soedirman di area Panti Rapih. Monument itu tak jauh dari kamar Soedirman dirawat.

Sebulan melakukan pemulihan di rumah sakit, Soedirman pulang ke rumahnya di Bintaran. Ketika di rumah, Soedirman pernah beberapa kali tak bisa menahan hasrat ingin merokok. Perilaku ini, lagi-lagi, justru memperburuk kesehatannya. Soedirman pernah muntah darah. Pada 17 Desember 1948, keajaiban datang. Soedirman tiba-tiba bisa bangkit dari tempat tidur. Sebelumnya, sepulang dari Panti Rapih, ia selalu terbaring di ranjang. Hari itu, kepada istrinya, Soedirman berkata memiliki firasat Belanda akan melakukan agresi. Dua hari berselang, firasat sang Jenderal terbukti : Belanda membombardir Yogyakarta, yang saat itu Ibu Kota Indonesia. Ia pun memilih mengakhiri cutinya.

Dengan diusung tandu, hamper delapan bulan,Soedirman keluar masuk hutan memimpin gerilya dari luar Yogyakarta. Pernah suatu ketika ia tidak makan selama lima hari. Dengan perut kosong, Soedirman menembus medan yang diguyur hujan lebat. Sesampai di pacitan, Jawa Timur, ia sakit. Anak buahnya terpaksa mendatangkan dokter dari Solo. Rika, suster yang merawat Soedirman, kala itu menulis pengalamannya saat bersama jenderal besar ini. Menurut dia, saat itu Soedirman dirawat dengan nama samaran : Abdullah Lelana Putra. Pengakuan Rika pada 1985 itu dimuat surat kabar yang naskahnya kini tersimpan juga di museum Sasmitaloka. Soedirman memakai nama samaran supaya keberadaannya tak diketahui Belanda.

Di Panti Rapih, Soedirman masih memimpin rapat kabinet bersama Presiden Soekarno membahas upaya mempertahankan kemerdekaan. Hanya dua pekan ia dirawat disana, setelah itu, Soedirman kembali ke rumah. Setelah Belanda bersedia melakukan gencatan senjata pada Oktober 1949, kesehatan Soedirman kian mencemaskan. Dokter meminta kembali ke Panti Rapih. Tapi ia memilih beristirahat di wisma tentara di Badakan, Magelang. Tapi tetirah sejuk dengan pemandangan Gunung Sumbing itu tak bisa membuat kesehatan Soedirman membaik. Tiga bulan disana, ia kerap muntah darah. Juga ditempat tidur. Dokter Husein dari Rumah Sakit Magelang bolak-balik memeriksa dan menungguinya. Dan saat itu, kondisi Soedirman tinggal tulang dan kulit saja.

Seolah-olah mendapat firasat hari kematiannya segera tiba, pada 18 Januari 1950, Soedirman memeinta sejumlah petinggi tentara menemuinya di Badakan. Esok harinya, ia emanggil istri dan tujuh anaknya. Seperti kepada para petinggi tentara, ia juga memberi wejangan kepada istri dan anak-anaknya. Tak sepenuhnya pertemuan dengan keluarga diisi dengan wejangan. Soedirman juga sempat bergurau. Kepada keluarganya, misalnya, ia menyatakan sebenarnya ingin seperti Lurah Pakis, kenalannya, yang hidup sampai tua dan bisa meminang cucu.

Pada Ahad pagi, 29 Januari 1950, setelah lama terkulai lemas sejak Oktober di rumah peristirahatan tentara di Magelang, mendadak wajah Soedirman tampak cerah. Pagi itu, Ahmad Yani, Gatot Soebroto, serta beberapa petinggi militer dan sipil hadir. Tidak diketahui apa yang dibicarakan.

"Waktu itu, menurut Ibu, tiba-tiba terdengar suara kaleng dan botol pecah mendadak. Bersamaan dengan itu, bendera di halaman melorot setengah tiang. Sampai Ibu bilang ke beberapa pengawal, ’Ah, itu hanya angin’."

Setelah salat magrib, sebagaimana didengar dari Alfiah, Soedirman memanggil istrinya ke kamar. Di dalam, dia berkata, "Bu, aku sudah tidak kuat. Titip anak-anak. Tolong aku dibimbing tahlil.” Alfiah menuntunnya mengucap Laa Ilaha Illallah, dan Soedirman mengembuskan napas terakhir disaksikan dan dalam dekapan istri tercinta...




Oleh: Beny Rusmawan

https://web.facebook.com/girnaldi.girnaldi/posts/274180737382570

30 januari 2021

 

MENGENANG TATANG KOSWARA SANG SNIPER KELAS DUNIA LAIN

Sabtu, 27 Maret 2021

MENGENANG TATANG KOSWARA SANG SNIPER KELAS DUNIA LAIN




Sisi lain TNI yang menbuat tetap bangga punya TNI penjaga NKRI"

Mengenang Tatang Koswara, Sniper Kelas Dunia yang Kebal Segala Bisa Ular dan Lihai Bertempur

Penulis Krisantus de Rosari Binsasi -30 Maret 2020.

Almarhum Tatang Koswara, sang sniper kelas dunia yang ikut bertempur melawan fretilin di Timor Timur.

JAKARTA – Nama lengkapnya adalah Habib Abdurrahman. Namun dalam dunia militer Indonesia, ia lebih di kenal sebagai Tatang Koswara. Tatang yang akhirnya pesiun sebagai Peltu (Purn) TNI ini adalah salah satu penembak jitu atau sniper terbaik di dunia.

Dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons (2000) yang ditulis Peter Brookesmith, Tatang masuk 14 besar dalam urutan Sniper’s Roll of Honour di dunia. Tatang mencetak rekor 41 di bawah Philip G Morgan (5 TH SFG (A) MACV-SOG) dengan rekor 53, dan Tom Ferran (USMC) dengan rekor 41. Tatang memperoleh rekor tersebut dalam perang di Timor Timur (Tim-Tim, kini Timor Leste) pada 1977-1978.

Deretan kisah hebat selama bertugas di Tim-Tim tetap terpatri sebagai kenangan yang membanggakan bagi sosok dari tanah Sunda ini. Di bawah komando Letnan Kolonel Edi Sudrajat, Tatang menjadi sniper yang masuk ke jantung pertahanan musuh di daerah Remexio, Lautem, Viqueque, Aileu, Becilau, dan Bobonaro.

Kebal segala bisa ular

Selain lihai dalam menembak, Tatang yang saat itu masih berpangkat Sersan Satu (Sertu), ternyata memiliki kekebalan terhadap segala jenis bisa ular. Hal terkuak saat ia bertempur bersama Letnan Ginting, seorang pengawal dari Kopassus di pegunungan Remexio, yang terletak sekitar 30 km dari kota Dili (Ibukota Timor Leste sekarang).

Kala itu untuk menghindari tembakan membabi buta dari pasukan ratusan pasukan Fretilin, ia dan Letnan Ginting bersembunyi di pinggir tebing curam yang penuh duri dan banyak ular.

Tapi untuk bertemu ular, tidak masalah bagi Tatang karena dirinya memiliki ilmu kebal semua bisa ular. Artinya ia bisa menyingkirkan ular itu dengan mudah tanpa harus membuat Ginting terganggu.

Penilaian Tatang ternyata tepat esok harinya posisi ketinggian yang disarankan Ginting untuk mengendap ternyata diperiksa patroli musuh yang jumlahnya ratusan.

Untuk memecah perhatian lawan Tatang lalu mengontak Kolonel Edi Sudrajat dengan radio agar pasukan TNI yang sedang berpatroli menyerang pasukan Fretilin itu dari sisi timur. Tak berapa lama tembakan gencar pun meletus dari arah timur dan kelompak pasukan Fretilin di depan Tatang mulai pecah perhatiannya.

Setelah melakukan perhitungan cermat bahwa musuh sudah berada di atas 300 meter jaraknya, Tatang pun mulai membidik dan satu persatu musuh potensial yang memegang senjata otomatis dengan senapan Winchester M-70 andalannya. Tembakan jitu Tatang, semuanya menghantam kepala musuh pada jarak tembak 300 hingga 600 meter.

Diam-diam Letnan Ginting meneropong sekaligus menghitung sasaran yang berhasil dijatuhkan dan sedikitnya 49 musuh berhasil dirobohkan.

Hasilnya, hari itu misi tempur sukses karena musuh melarikan diri. Dari 50 butir peluru yang dibawa Tatang tinggal satu butir peluru yang tetap dibawanya kembali menuju ke markas.

Kelabui musuh dengan sepatu terbalik

Tak cuma jago membidik lawan, ia juga pintar mengelabui musuh. Tatang menciptakan sepatu yang memiliki alas dalam posisi terbalik. Maklum Tatang berasal dari daerah Cibaduyut, Bandung yang terkenal dengan industri pembuatan sepatu.

Dengan sepatu yang alasnya sengaja diciptakan terbalik itu, jika Tatang sedang bergerak maju makan tapak kakinya justru bergerak ke arah sebaliknya.

Pernah ia dikejar-kejar lima personel pasukan musuh tapi mereka berhasil terkecoh. Tatang cukup melompat dan bersembunyi di semak, sementara para pengejar saya berlari-lari menuju arah yang berlawanan.

Di samping lihai bersembunyi, Tatang ternyata juga mahir melacak jejak. Khusus korban yang berhasil ditembak di kepala biasanya darah yang berceceran di tanah ada campuran warna putih karena berasal dari cairan otak. Sedangkan, jika darah berwarna merah dan jumlahnya banyak, korban biasanya kena di bagian dada.

Sang sniper legendaris tersebut telah berpulang pada 3 Maret 2015 silam akibat serangan jantung. Meski banyak berjasa dalam perang di Tim-Tim, ia selalu menekankan bahwa perjuangannya dalam perang di sana adalah demi tegaknya NKRI dan bukan untuk mencari pangkat dan penghargaan.

Tenang dan Bahagialah di surga abadi Pak Tatang. Namamu selalu terkenang dalam sejarah Indonesia!

 


Rabu, 17 Maret 2021

Ada 13 permintaan ANAK yang mungkin tidak pernah mereka ucapkan :

1. Cintailah aku sepenuh hatimu.

2. Jangan marahi aku di khalayak orang ramai.

3. Jangan bandingkan aku dengan kakak, abang, adikku atau orang lain.

4. Ayah dan bunda jangan lupa, aku adalah fotocopimu.

5. Kian hari umurku kian bertambah, maka jangan selalu anggap aku anak kecil.

6. Biarkan aku mencoba, lalu beritahu aku apabila salah.🏃

7. Jangan ungkit-ungkit kesalahanku.

8. Aku adalah Ladang Pahala bagimu.

9. Jangan memarahiku dengan mengatakan hal-hal buruk, bukankah apa yang keluar daripada mulutmu sebagai orang tua ialah doa bagiku?😔

10. Jangan melarangku hanya dengan mengatakan "JANGAN" tetapi berilah penjelasan kenapa aku tidak boleh melakukan sesuatu.

11. Tolong ayah ibu, jangan rusak mentalku dan pemikiranku dengan selalu kau bentak-bentak aku setiap hari.

12. Jangan menyeret aku ke dalam masalahmu yang tidak ada kaitannya denganku. Kau marah sama yang lain, aku imbasnya.

13. Aku ingin kau sayangi dan cintai kerana engkaulah yang ada dalam kehidupanku dan masa depanku.

SEMOGA BERMANFAAT




 31 otober 2020

Sumber:

https://web.facebook.com/nisshacaemzt.gozali/posts/2924191287866649

 

 


Mengapa Flu Spanyol

Minggu, 13 September 2020

 

Mengapa Flu Spanyol

Pandemi influenza pada awal abad ke-20 bukan berasal dari Spanyol. Lantas mengapa penyakit yang membunuh 50 juta orang di dunia itu dikenal sebagai flu Spanyol?

Foto: Getty Images via BBC

Minggu, 13 September 2020

Kamp militer Amerika Serikat di Furston (sekarang Fort Riley), Kansas, baru kedatangan ribuan tentara beberapa bulan sebelumnya pada Maret 1918. Pasukan tersebut hendak diberangkatkan ke Eropa untuk membantu tentara Inggris Raya, Prancis, dan sekutu mereka lainnya dalam Perang Dunia I.

Albert Gitchell, seorang koki di pangkalan militer, seperti biasa bangun sebelum fajar untuk menyiapkan sarapan bagi pasukan. Namun, pada 11 Maret 1918 pagi itu, Albert tidak mampu beranjak ke dapur untuk memasak. Badannya demam tinggi. Tenggorokannya sakit bukan main.

Ia memutuskan pergi ke rumah sakit di pangkalan militer. Dokter mendiagnosis Albert menderita influenza dan ia langsung dikirim ke bangsal penyakit menular agar penyakitnya tak merembet ke para penghuni kamp. Namun penyakit itu rupanya terlanjur menular ke ratusan tentara. Dalam dua hari saja, 512 personel pasukan Amerika di Fort Riley jatuh sakit.

Dan, seperti ditulis Claire O’neal dalam bukunya, The Influenza Pandemic of 1918, insiden di Fort Riley itu menjadi awal mula pandemi flu yang menyerang negara-negara di seluruh dunia pada 1918-1920. Sejarah mencatat wabah itu dengan nama 'flu Spanyol'. Sekitar 50 juta penduduk dunia tewas, dua kali dari jumlah korban Perang Dunia I. Sementara itu, penduduk dunia yang terinfeksi disebut-sebut mencapai 500 juta orang.

Sebuah auditorium di Kota Oakland, California, diubah menjadi rumah sakit sementara untuk menampung pasien flu Spanyol pada 1918.
Foto: CNN Internasional.

Dari Fort Riley, flu Spanyol menyebar pertama kali ke Prancis. Kapal AS mendarat di Brest dan Bordeaux, Prancis, dengan mengangkut tentara yang telah terinfeksi oleh virus A (H1N1) itu. Bahkan, menurut pakar virologi Bruno Lina, banyak kematian terjadi selama perjalanan kapal tentara AS melintasi Samudra Atlantik. Kasus positif lalu ditemukan menular ke tentara Prancis dan Inggris.

Selain persaingan historis antara Spanyol dan Prancis, inilah kemungkinan alasan mengapa, di Spanyol, influenza juga dikenal sebagai flu Prancis."

Dengan cepat, pandemi itu pun menyebar ke Spanyol, Jerman, Italia, dan Rusia. Dan hingga Juni 1918, virus itu telah menjangkau Afrika Utara, India, Asia, dan Selandia Baru dengan kasus-kasus fatal terbatas terjadi pada anak-anak dan orang tua. “Itu baru gelombang pertama,” kata Bruno Lina, profesor Universitas Claude Bernard Lyon, dalam artikelnya berjudul 'History of Influenza Pandemics' pada 2008.

Meski dari banyak penelusuran flu Spanyol bermula dari Amerika, ada pula versi lain yang menyebutkan bahwa pandemi itu berasal dari China. Hal itu terjadi karena banyaknya orang yang bermigrasi dari China ke Amerika. Virus tersebut kemudian melanda Amerika dan seluruh dunia. Bruno Lina juga mengatakan, selain di Kansas, pada awal 1918 itu, flu Spanyol juga telah terdeteksi di Detroit dan sebuah penjara di Carolina Selatan.

Pertanyaan yang sering mengemuka juga adalah, meski Spanyol bukanlah negara asal muasal virus A (H1NI) itu, lantas mengapa pandemi itu dikenal dengan sebutan flu Spanyol? Jawabannya adalah, selama Perang Dunia I berlangsung, kebebasan pers di negara-negara yang terlibat perang terbatas. Di negara-negara Eropa, pers mendapatkan sensor. Jika tidak, mereka menahan diri untuk memberitakan pandemi. Hal itu dilakukan agar masyarakat yang sudah menderita akibat perang tidak makin khawatir.

Para wanita menggunakan masker saat terjadi pandemi flu Spanyol pada 1918Foto: Getty Images via BBC

M Martini dkk dalam sebuah tulisan yang terbit di jurnal Preventive Medicine and Hygiene (2009) mengatakan, pada 22 Agustus 1918, Menteri Dalam Negeri Italia membantah laporan adanya penyebaran pandemi influenza, yang kemudian diikuti oleh surat-surat kabar setempat. Penyensoran diberlakukan bukan hanya pada berita tentang penyebaran infeksi, tetapi juga komentar-komentar yang tidak terkait dengan sumber resmi.

Berbeda dengan di Spanyol. Pada Perang Dunia I, Spanyol adalah negara yang netral, tidak terlibat dalam blok mana pun. Surat kabar Spanyol bebas memberitakan pandemi pada 1918 beserta dampaknya yang menakutkan. Karena berita-berita pertama tentang pandemi itu muncul di Spanyol, akhirnya banyak orang menganggap pandemi itu berasal dari negara tersebut. Halaman depan surat kabar di Spanyol pun dipenuhi nama-nama orang yang meninggal karena virus A (H1N1).

Peneliti lainnya mencatat, surat kabar ABC Madrid adalah koran pertama yang memberitakan pandemi di Spanyol. Pandemi itu disebut penyakit aneh mirip flu yang mulai menyebar sejak awal Mei 1918. Pengidapnya mengalami demam 2-3 hari. Penyakit itu dilaporkan terjadi secara tiba-tiba. Bahkan penderitanya bisa pingsan saat berjalan.

Di Spanyol, ketika gelombang pertama pandemi menyerang, banyak pekerja yang tinggal di rumah karena sakit. Beberapa layanan, termasuk pos, telegraf, dan perbankan, ditutup sementara. Pada minggu terakhir Mei 1918, Raja Alfonso XIII dikabarkan jatuh sakit. Bukan hanya raja, perdana menteri dan beberapa anggota kabinet juga terserang flu Spanyol.

“Beberapa pengamat berpendapat epidemi bisa saja menyebar dari Prancis karena lalu lintas kereta api yang padat dari pekerja Spanyol dan Portugis dari dan ke Prancis,” tulis Antoni Trilla dkk dalam artikel "The 1918 'Spanish Flu' in Spain" yang dimuat di jurnal Clinical Infectious Disease tahun 2008. “Selain persaingan historis antara Spanyol dan Prancis, inilah kemungkinan alasan mengapa, di Spanyol, influenza juga dikenal sebagai flu Prancis,” imbuhnya.

Peta Spanyol dan negara-negara di Eropa pada 1918. Tampak jalur kereta api dari Spanyol dan Portugal ke Prancis.

Foto: Repro jurnal Clinical Infectious Disease.

Antoni menerangkan, gelombang pertama pandemi 1918 di Spanyol berlangsung sangat cepat, hanya dua bulan, dan kondisi kembali seperti semula. Namun gelombang kedua (September-Desember 1918) benar-benar telah mengganggu kehidupan normal warga Spanyol. Sekolah dan universitas ditutup, kecuali gereja dan teater. Seluruh tempat di negara itu dilakukan disinfektasi, bahkan sampai dokumen surat.

Beberapa kota di Spanyol memiliki angka kematian cukup tinggi, mencapai 12 persen. Karena angka kematian tinggi itu, rumah duka dan gereja dikepung warga. Beberapa kota kehabisan peti mati. Bahkan Wali Kota Barcelona meminta bantuan tentara untuk pengangkutan dan penguburan mayat karena pekerja di Balai Kota langka.

“Sistem kesehatan Spanyol kewalahan dan tidak memberikan tanggapan yang efisien. Banyak desa kecil yang tersebar di seluruh negeri tidak mempunyai bantuan medis. Dokter mereka meninggal dan untuk mencari penggantinya tidak mudah. Beberapa siswa sekolah kedokteran secara sukarela dikerahkan,” tulis Antoni.

Gelombang influenza ketiga terjadi pada Januari-Juli 1919 dengan tingkat keparahan lebih ringan dibandingkan gelombang kedua. Total, dari ketiga gelombang pandemi di Spanyol itu, korban meninggal tercatat 186.174 orang. Namun, jika indeks epidemiologi umum untuk kematian akibat pneumonia dan influenza digabung, diperkirakan 1,2 juta penduduk Spanyol meninggal dunia dengan sebagian besar meninggal selama gelombang kedua pandemi.

Minggu, 13 September 2020

Sumber:

https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20200913/Mengapa-Flu-Spanyol/?fbclid=IwAR1GeZPoR8nCNobLeFYBy1qsghRoUbS0zewkQUyTRUUYcMfuA7wq257oNC8


https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20200913/Mengapa-Flu-Spanyol/?fbclid=IwAR1GeZPoR8nCNobLeFYBy1qsghRoUbS0zewkQUyTRUUYcMfuA7wq257oNC8

CORONA COVID 19

Selasa, 31 Maret 2020
CORONA-COVID 19

Baru saja kemaren membahas sedikit masalah corona dan covid 19 pada tulisan berjudul banjir tahap dua, eehh sekarang perkembangannya sangat mengerikan dan bahkan sudah menjadi pandemi (penyebaran secara cepat dan meluas ke antar negara dan benua). Di Indonesia sendiri yang saya tahu awalnya dari dua orang positif terkena covid 19 yang berdomisili di Depok akhirnya menyebar dengan cepat di wilayah yang lain Indonesia dan berefek pada kebutuhan hidup yang berubah cepat pula.

Saat ini banyak orang mencari tahu apa itu corona dan covid 19 (Corona (CO), Virus (VI) Disease (D) dan tahun 2019 (19), yang mana virus corona Covid-19 ini pertama kali muncul di tahun 2019), cara penyebarannya, cara penangannanya dan lain lain. Bahkan ada yang semakin tahu justru semakin takut. Termasuk juga berefek ke ranah politik local ataupun global, apakah ini murni virus ataupun merupakan senjata biologis ataupun memang benar-benar dari China ataupun pula dari Amerika, itu yang untuk politik global. Kita tahu kedua negara tersebut memang sedang perang dingin. Lepas dari hal tersebut sambil berproses oleh waktu yang akan membuka tabir yang sesungguhnya terkait dengan corona ataupun covid 19 mari kita kembali ke topik.



Dampak corona-covid 19 di Indonesia adalah langkanya masker karena ada penimbunan dan sebagainya dan kalaupun ada harganyapun tidak masuk akal. Luar biasa peran para penimbun yang tidak membantu meringkan wabah penyakit yang sedang dialami anak bangsa malah justru mencari keuntungan pribadi saja. Ternyata bukan hanya masker saja yang langka termasuk pula berbagai merk disifektan, hand sanitizer dan sebagainya, sayapun juga sudah membuktikan mencari barang-barang tersebut memang langka. Karena memang barang-barang tersebut sangatlah penting dalam kondisi seperti ini. Satu sisi masker untuk melindungi diri dari penularan virus juga untuk mengurung virus tersebut agar tidak keluar saat penderita sedang bersin, batuk ataupun bicara. Sedangkan covid 19 ini sebenarnya virus yang lemah, karena tidak tahan disuhu yang panas, makanya dianjurkan untuk berjemur yang tepat pukul 10:00 pagi hari. Selain panas virus ini juga tidak tahan terhadap sabun, disifektan, hand sanitizer makanya langka produk-produk tersebut.

Akhir-akhir ini sering pula mendengar kata-kata WFH (Work from Home) dan social distance selain kata-kata corona dan covid 19. Tentunya kata-kata tersebut juga imbas dari adanya corona-covid 19. Salah satu antisipasi yang diambil untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut. Maksudnya WFH itu kita bekerja dari rumah alias tidak kekantor melainkan bekerjanya dari rumah, termasuk juga kantor saya. Maka dari itu untuk kantor saya dikasih waktu dua minggu (14) hari bekerja dari rumah yaitu sejak tanggal 17 maret- 01 April 2020 walaupun di minggu awal masih pakai sistem piket (berhubung saya ngajar kelas boarding maka saya jadwalnya melebihi dari yang piket hehehe). Melihat perkembangan penyakit ini semakin bertambah, akhirnya untuk kegiatan kerja dilakukan secara WFH untuk seluruh pegawai dan system piket ditiadakan, termasuk juga pelatihan disudahkan pula. Karena sampai saat ini masih berjalan beberapa paket pelatihan boarding (pelatihan yang pesertanya dari luar Bekasi dan di asramakan) termasuk juga Dikdas (Diklat Dasar) dipulangkan, padahal mereka juga baru mulai pelatihan untuk yang kelas Dikdas dan masa pelatihannyapun panjang sekitar tujuh bulanan maklum merekan kan PNS yang disiapkan untuk menjadi Instruktur, seperti halnya saya saat Dikdas dahulu. Sedangkan untuk pelatihan NonBoarding yang pesertanya lokal, memang sudah diliburkan dari awal. Itu dari segi teknis pelaksanaan pelatihan, sedang untuk menyikapi tertularnya corona-covid 19 ini bagi pegawai yang masuk, prosedurnya sudah disesuaikan dengan protkol yang berlaku seperti di cek suhu badan sebelum masuk ruangan, dititik-titik stratergis sediakan cairan disifektan serta perperiodik diadakan penyemprotan seluruh area kantor dengan cairan disifektan. 

Para Dokter Sedang Berdinas


Sedangkan untuk pencegahan penyakit corona-covid 19 disekitar rumah atau wilayah saya dilakukan beberapa himbauwan dan penyikapan diantara untuk akses keluar masuk hanya ada satu pintu masuk, selain satu pintu masuk tersebut ditutup ataupun diportal. Dipintu masuk inilah dikasih bilik penyemprotan. Semua kendaraan ataupun orang yang melalui pintu ini akan disemprot. Berikutnya selain pintu masuk yaitu meminimalisir melakukan keluar rumah, jika tidak ada keperluan tetap stay at home. Kalaupun juga harus keluar dianjurkan untuk menggunakan masker.

Kenapa wabah kali ini memang benar-benar mengerikan, sepertinya memang belum pernah terjadi wabah penyakit yang sebesar ini. Wabah ini bisa dikatakan menegerikan tentunya tidak terlepas dari informasi yang tersampaikan ke kita. Sekarang untuk informasi tentunya tidaklah sulit didapet, nah informasi inilah yang mepengaruhi keijiwaan kita. Sebagai contoh pemberitaan yang kita terima yaitu: bagaimana dasyatnya corona-covid 19 yang melanda China di awal-awal. Begitu mencekan beritanya bahkan ada berita orang yang masih hidup alias beregrak dibungkus kain plastik dan dikatagorikan sudah meninggal. Belum berita yang tidak diekspos alias disembunyikan, ada yan bilang sebenarya yang meninggal di china itu (Wuhan) lebih banyak dan berlipat lipat dari yang pihak Pemerintah China umumkan. Terus lonjakan yang tajam untuk Negara Iran dan Italy saat diawal-awal, terkait yang menderita ataupun yang meninggal cukup tinggi. Bahkan di Italy sendiri saking banyaknya yang meninggal dan lahannya terbatas ada penguburan secara masal selain itu ada pula yang di kremasi dengan menggunakan beberapa puluh truk militernya untuk mengangkut ratusan mayat. Bayangkan saja satu hari “Kamis kemarin dalam satu hari tercatat ada 427 korban meninggal dunia, tertinggi sejak virus tersebut terdeteksi ada di Italia. Sementara jumlah kematian total menyentuh angka 3.405” (sumber oto.detik.com per 20 Maret 2020). sama halnya dengan dinegera kita Indonesia, pergerakan yang terjangkit corona-covid 19 juga meningkat dari hari ke hari, begitu pula yang sampai meninggal dunia. Bahkan yang meninggal dunia bisa dua kali libat dari yang sembuh. Belum lagi para pejuang di Garda Terdepan yaitu para Dokter yang sudah meninggal dunia sampai saat ini 31 maret 2020 berjumlah sebelas dokter (kita doakan semoga para pejuang kemanusiaan/para dokter yang meninggal ditempatkan di Siisi Allah SWT aamiin.  Sedang untuk yang terjangkit covid 19 di Indonesia Update 31 Maret: 1.528 Kasus, 136 Meninggal, 81 Sembuh. Selain hal tersebut yang membuat virus ini menakutkan adalah para penderita corona-covid 19 yang meninggal dunia, proses pemakamannya berbeda dengan yang pada lazimnnya. Mereka yang meninggal tidak dikafani dengan kain, melainkan dengan plastik. Selain itu juga tidak di mandikan seperti layaknya, mereka cukup dengan tayamun dan yang mensholati jenazahnya adalah para dokter dan rekan-rekannya. Merekapun (yang meninggal dunia) tidak dibawa pulang ke rumah, melainkan langsung dimakamkan sehingga para keluarga yang di tinggalkannyapun tidak bisa berjumpa dengan si mayit apalagi mencium ataupun memeluknya. Yang terakhir yang membuat takut masyarakat kita adalah “mahluk ghoib” mahluk ghoib disini bukannya dia itu setan ataupun hantu, melainkan virus yang tidak tampak, sehingga bisa pula kita menyebutnya ghoib. Kita tidak mengetahui keberadaan dia dimana, tapi dia itu ada dimana-mana yang setiap saat dapat saja menempel di tubuh kita entah kapan dan dimana, tahu-tahu kita sudah positip mengidap corona-covid 19. Bahkan bisa jadi kita tertular oleh orang yang sudah mengidap penyakit ini, karena ada orang yang terkena penakit ini tetapi dia tidak merasakan efeknya. Kita pikir dia sehat, eehh gak Taunya justru menularkannya.  Orang yang seperti ini biasanya mempunyai daya imun yang kuat. Nah kalau cerita tersebut di atas kita alami, bagaimana kita tidak takut membayangkan saja sudah mengerikan. Maka dari itu marilah kita berdoa agar tidak mengalami hal tersebut diatas aamiin.

Puluhan Truk Militer Italy Menganngkut Ratusam Mayat


Atas kejadian-kejadian hal tersebut di atas, kamipun menyikapinya dengan beragam fakta. Kadang optimis baik-baik saja, kadang pesimis dan juga iklas dan pasrah. Bayangkan saja saat kami (saya dan istri) keluar untuk membeli kebutuhan keluarga disitu terasa parno sendiri. Apa-apa harus waspada, buka pintu Alfa atau Indopun menggunakan kaki, jarak antrian bayarpun berjarak satu meter. Intinya meminimalisir memegang sesuatu di tempat umum, kalaupun memegang ujung-ujungnya tangan kami dioleskan dengan hand sanitizer. Begitu pula plastic belanjaan yang kami terima entah belanja barang ataupun pemesan makanan via grab ataupun pengiriman paket semua yang dilakukan serba ketakutan. Pulang dari belanja ataupun keluar dari rumah, setibanya di rumah baju yang kami kenakan ditaruh dimesin cuci untuk dicuci walaupun hanya sekali atau sebentar dalam pemakaiannya. Setiap hari kamipun sekeluarga rutin berjemur sinar matahari termasuk juga berimbas ke pola makan. Kami membiasakan diri memakan extra food (kombinasikan campuran buah dalam bentuk cair sekental madu dan ini juga merupakan produk yang langka. Sampai saat ini kamipun kehabisan produk ini) sebelum makan, kopi herbal baik itu heath Coffe termasuk Sevel Coffe dan tentunya ngeteh dengan teh jana tea hot serta herbal-herbal lainnya seperti Procumin habassauda dll. Semua itu produk berkhasiat dari HPAI. Jika pembaca ada yang berminat terkait herbal-herbal tersebut, dapat menghubungi saya (sekalian mengkampanyekan hidup sehat sekaligus promosi heheheh..). Sebenarnya hal tersebut juga ingin dibarengin pula dengan olahraga, tapi berhubung adanya himbauwan stay at home, ya sudah olah raga saja di rumah saja deh.



Beda negara beda penanganan dan beda kepentingan. Ada yang rakyatnya Bersatu melawan covid 19 tapi juga ada sebaliknya. Kejadian covid 19 ini justru dimanfaatkan oleh piha-pihak yang tidak bertanggung jawab dan mencari keuntungan dan faktor politis tentumnya. Ada ketidakkompakan anatara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah mereka berdua mempuyai pendapat yang berbeda-beda dan alasan masing-masing dalam menangani covid 19 ini. Seperti halnya ada yang berkeinginan untuk cepat mengambil langkah yang konkrit seperti diberlakukannya karantina wilayah atau LockDown (berarti karantina wilayah, yaitu pembatasan pergerakan penduduk dalam suatu wilayah, termasuk menutup akses masuk dan keluar wilayah) tapi pemerintah Pusat sepertinya tidak sependapat dengan hal tersebut, justru Pemerintah Pusat ada indikasi ingin menerapkan Darurat Sipil, darurat sipil merupakan status penanganan masalah yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 23 Tahun 1959 tentang Keadaan Bahaya. Dalam perppu itu dijelaskan 'keadaan darurat sipil' adalah keadaan bahaya yang ditetapkan oleh Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang untuk seluruh atau sebagian wilayah negara. Sepertinya penanganan terkait covid 19 di Indonesia ini lebih rumit dan banyak kepentingan dan ada yang berkomentar jangan-jangan Indonesia tidak punya dana untuk menaggulangi covid 19 ini sehingga usulan Darurat Sipil muncul. Memang kalau Darurat Sipil, Pemerintah tidak menanggung kebutuhan rakyatnya berbeda dengan Lockdown, Pemerintah akan menanggung biaya kebutuhan rakyatnya (kenapa tidak pakai dana yamg diperuntukan untuk pemindahan ibu kota saja yaaa hehehe..). lepas dari itu semua semoga saja keputusan yang di ambil adalah keputusan yang terbaik untuk kita semua. Kalaupun ada keputusan yang diambil tidak sesuai dengan jalur kebenaran, biar saja yang bersangkutan akan menerima pembalasan kelak di akhirat.

Perbedaan Darurat Sipil-Pembatasan Sosial-Karantina Wilayah